Makasihmu.

“Sayang, kalau nanti aku sudah mulai kerja lagi, gapapa ya kita tidak sering ngobrol seperti sekarang?”

“Gapapa Mas.. biasa aja..” ( a little bit sad, actually, but then….. )

“Makasih ya Sayang.. Love you…”

“Kenapa makasih ih.. Love you, too, Mas..”

“Makasih tidak mempermasalahkan..”

…….

Karena kamu berterima kasih, aku tidak ada alasan lagi untuk meminta lebih. Makasihmu terasa tulus. 🙂

*malem – malem terharu gajelas*

Gombal.

“Mas kamu kok ganteng banget si?”

“Hehe gatau nih.. apa mungkin karena mau jadi pendampingmu ya  makanya Allah jadiin aku gini biar seimbang sama cntiknya kamu”

#aimatek mau gombalin malah digombalin haha
I love you, Polarisku ♥

Kuatku.

Kita terpisah. Jauh. Aku takut. I mean, I’m insecure. Aku kadang takut jika ternyata aku tak seperti yang kamu mau lalu kau akan berpaling meninggalkanku yang telah terjatuh untuk menunggumu menangkapku.

Aku, dengan segala ketakutanku karena LDR ini berkata… 

Kamu jangan nakal ya? jangan ninggalin aku.. aku takut kamu pergi.. ”

“Aku gak akan macem – macem, kalo aku mau ninggalin kamu, aku ga akan berani 28 September ke rumahmu.. cincin di jari manis kirimu itu jaminan aku gak akan ninggalin kamu..”

Seketika aku melihat tangan kiriku, dan sedikit terharu. Setiap melihatnya, aku teringat kata – katamu. Dan aku percayai, itu kuatku.

Aku&Kamu

Tiba – tiba saja aku ingin menceritakan kesanku tentang pertemuan kita. Aku, Siti Nurbaya 2013, tetapi kamu terlalu baik dan terlalu ganteng untuk disebut Datuk Maringgih, walaupun kamu lebih tua 😀 

Malam itu, ibuku sengaja mempertemukan kita. Aku tidak ada firasat sedikitpun untuk dijodohkan. Tetapi, saat bersalaman denganmu, dalam hati aku berkata, “Ih.. ganteng” Lalu berlalu begitu saja. Saat itu 6 Agustus 2013, malam hari setelah sholat tarawih. 

Lebaran, malam jumat. Kamu datang bersama sepupumu, akku tercengang. “Lelaki ini lagi? ada apa?” Aku mulai sedikit curiga. Kita pun didudukkan di kursi, aku ingat kita berhadapan dan aku masih memakai piyama dan berjilbab. Kita dijodohkan. Atmosfir ini sudah tidak asing lagi bagiku karena Mama sering sekali menjodohkan aku dengan kenalan – kenalan Mama, dan aku selalu saja menolak, mempertahankan cintaku ke orang yang sudah kukencani bertahun – tahun. Kali ini, aku rela memberikan nomor handphone, sepertinya hatiku mulai bimbang. Malam itu, 8 Agustus 2013, ba’da maghrib.  

Ibuku terus berkata, “Mama gak maksa. Mama cuma ingin menunjukkan jalan yang benar buat kamu, ini lho.. tapi kalau kamu gak mau, Mama gak Maksa kok.. tapi tolong dicoba dulu..

Setelah hari itu, kita pun saling berikirim pesan, pesan pertama yang  kamu kirim aku masih ingat. “Assalamualaikum, (namaku).. lagi apa? udah makan belum? 😀” Sore itu, aku sepakat dengan diriku sendiri, “Aku ingin mencoba..”  Senja, 9 agustus 2013. 

Dalam benakku, mulai ada pertanyaan, “Apa diterima saja? toh orang tua kita sudah ingin sekali menjodohkan kita.. masalah perasaan, aku yakin rasa sayang bisa datang lewat hari.. tapi bagaimana dengan dia? Apa dia terpaksa? Apa karena takut orang tuanya? Sementara aku disini tulus ingin mencoba kembali rasanya menyayangi dan disayangi? Tapi terasa tidak adil buat aku&kamu jika kamu hanya terpaksa..” Lalu Ayahmu terus memanggilku ke rumah, Ayahmu ganteng. Ayahmu lebih ganteng dari kamu 😀 Ayahmu juga lucu, aku selalu dibuat tertawa oleh beliau, seperti kamu yang selalu bisa membuatku tertawa. Aku mulai yakin dan mau untuk lebih mengenalmu, lebih dekat denganmu.

Saatnya aku harus menyelesaikan studiku, aku kembali merantau dan kamu mengantarku malam itu. Di atas motormu, kamu berkata,

Aku ngomong gini, kamu denger gak? (aku menjawab, "iya denger kok”) Aku mau ngomong penting.. kalau tanggal 28 nanti, aku ke rumahmu sama keluargaku bagaimana? Bukan Mamamu, tapi dari kamu sendiri. Kamu mau gak?“ 

Aku malah menggodamu, ”Memangnya kamu mau apa ke rumahku bersama keluargamu?“ padahal aku sudah nervous ga karuan waktu itu, untuk aku tidak jatuh dari boncenganmu.

Lalu kamu menjawab, ”Ngapain ya? Apa ya istilahnya…. emm.. melamar?“ HAHAHA jantungku kalau dia bisa loncat mungkin sudah kemana – mana.

Emang kamu udah yakin sama aku? Beneran?“

"Emm.. iya.. ”

“Ah lama jawabnya.. gamau ah, gak yakin ya?”

“Yakin kok yakin.. (sambil tertawa). Gimana?”

“Iya.. Mau..” Jawabku sambil malu – malu gak jelas.

Sip..” Sambil mengacungkan jempol kirimu.

Aku dilamar, di atas motor. Unforgettable 😀 Setelah kita berpisah, waktu itu SMSmu membuatku tidak bisa tidur semalaman, padahal hanya.. “Hati – hati di jalan ya.. istirahat aja.. I’ll miss you 😀" Kalau aku tidak ingat di dalam travel, aku sudah meloncat kegirangan seperti orang gila. Aku benar – benar menyukaimu. Malam itu, 3 September 2013, aku&kamu terpisah. 

(to be countinued…)

Saat – saat seperti Ini.

Hey polaris..
Di luar hujan, di kasurku juga.
Sedang apa kamu disana?
Aku merindukanmu.
Di saat – saat seperti ini bukan kenangan yang muncul, tapi malah khayalan, membayangkanmu. Membayangkan jika kita berdua serumah nanti dan ada di saat – saat seperti ini. Aku membayangkan duduk berdua menyandar tembok di atas kasur, bergenggaman tangan, dan kita bercerita dan kamu bercanda, menggodaku dengan khas candaanmu. Aku tertawa, berpura – pura marah untuk mencubitmu. Lalu sesekali aku bersandar di bahumu, dan kamu sesekali pun mengusap rambutku. Ah, pasti akan hangat, tidak seperti sekarang.
Hey Polaris, apa yang ada dipikiranmu sekarang di saat – saat seperti ini?
Aku tambah rindu kamu.
Entah kapan bisa bertemu, doakan aku dengan studiku. Agar aku bisa pulang dan menemuimu secepatnya. Tunggu aku, ya? 🙂

Intro.

Hai Polarisku.. aku sudah menutup diaryku yang kemarin. Aku sudah membuangnya jauh – jauh dari bawah bantalku. Aku tidak mau lembar baru dari diary yang sama. Benar – benar halaman baru. Untukmu, untuk kisah kita yang (kuharap) selamanya. 

Polaris. Kenapa Polaris? aku terinspirasi dari page blog milik Mas Erick Namara  (http://www.namarappuccino.com/2012/11/polaris.html) tentang arti Polaris. Lalu aku menyadari bahwa kaulah Polarisku, dulu aku pernah berpegang pada bintang yang salah untuk sampai ke tujuanku. 

Hey, kamu. Aku ingin kamu menjadi Polarisku. Tetaplah disisiku, seperti Polaris yang selalu ada di tempatnya walaupun bumi berputar. Jadilah utaraku. Ya?