Intro.

Hai Polarisku.. aku sudah menutup diaryku yang kemarin. Aku sudah membuangnya jauh – jauh dari bawah bantalku. Aku tidak mau lembar baru dari diary yang sama. Benar – benar halaman baru. Untukmu, untuk kisah kita yang (kuharap) selamanya. 

Polaris. Kenapa Polaris? aku terinspirasi dari page blog milik Mas Erick Namara  (http://www.namarappuccino.com/2012/11/polaris.html) tentang arti Polaris. Lalu aku menyadari bahwa kaulah Polarisku, dulu aku pernah berpegang pada bintang yang salah untuk sampai ke tujuanku. 

Hey, kamu. Aku ingin kamu menjadi Polarisku. Tetaplah disisiku, seperti Polaris yang selalu ada di tempatnya walaupun bumi berputar. Jadilah utaraku. Ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s